Anggaran Minim, Pangkalpinang Andalkan Sekolah dan Dunia Usaha untuk Selamatkan Seni Tradisional

PANGKALPINANG, BERINDO.ID – Keterbatasan anggaran pemerintah tak menyurutkan upaya pelestarian kesenian tradisional di Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Pemerintah kota berupaya menjaga warisan budaya melalui program pendidikan di sekolah dan menggandeng dunia usaha untuk mendukung berbagai kegiatan kebudayaan.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang, Ratna Purnamasari, yang akrab disapa Bunda Tudung Saji, mengatakan pelestarian budaya harus dilakukan secara berkelanjutan agar kesenian tradisional tetap dikenal dan diminati generasi muda.

banner dalam.jpg

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui inovasi daerah bertajuk Membangun Kebudayaan Daerah dari Sekolah, yang mulai dikembangkan pada 2022. Program ini mencakup sejumlah kegiatan, di antaranya Dambus Masuk Sekolah, Budayawan dan Sejarawan Masuk Sekolah, serta Pangkal Heritage Bekeca.

“Yang paling prioritas adalah Dambus Masuk Sekolah. Kami mencoba agar kesenian tradisional tidak mati. Salah satu yang kami pilih untuk diselamatkan adalah dambus,” kata Ratna seusai Festival Kesenian Tradisional Pangkal Pinang, Lomba Menulis Biografi Wali Kota Periode 1956–1978, dan Bazar UMKM di Taman Wilhelmina, Sabtu (17/10/2026).

Menurut dia, program Dambus Masuk Sekolah dilaksanakan selama tiga bulan, yakni Juli hingga September 2026. Para siswa mendapatkan pembelajaran di sekolah, kemudian menunjukkan hasilnya melalui pagelaran Dambus Pelajar.

Untuk meningkatkan antusiasme peserta, kegiatan tersebut tidak hanya dikemas sebagai pertunjukan, tetapi juga dilombakan. Dengan demikian, siswa dan sekolah memiliki dorongan lebih besar untuk terus mengembangkan kemampuan dalam memainkan musik tradisional.

Namun, Ratna mengakui keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan utama dalam menjalankan program pelestarian kebudayaan. Dukungan pemerintah melalui pagu anggaran dinas dinilai belum memadai untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan kegiatan.

Karena itu, pihaknya menggandeng perusahaan yang beroperasi di Pangkalpinang untuk ikut mendukung kegiatan kebudayaan. Menurut Ratna, terdapat lima perusahaan yang memberikan dukungan sehingga rangkaian festival dapat terlaksana.

“Kalau dilihat, uangnya memang terlihat besar. Tetapi sebenarnya yang besar adalah semangat juangnya,” ujarnya.

Selain mengembangkan kebudayaan melalui sekolah, festival tersebut juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali kesenian tradisional khas Pangkalpinang. Sebanyak 30 sanggar dilibatkan dalam rangkaian kegiatan selama tiga hari.

Ratna menjelaskan, pemilihan peserta difokuskan pada sanggar yang masih menampilkan kesenian tradisional dengan karakter aslinya. Dari sekitar 60 sanggar atau lebih yang ada di Pangkalpinang, sebagian telah mengembangkan pertunjukan dengan sentuhan semi-modern sehingga tidak seluruhnya dilibatkan dalam festival kali ini.

Ia menegaskan, pengembangan kesenian dengan sentuhan modern bukan berarti dilarang. Namun, festival tersebut secara khusus diarahkan untuk memperkenalkan bentuk kesenian tradisional yang menjadi ciri khas daerah.

Ratna mencontohkan, kesenian tari yang telah dikenal sejak dekade 1960-an kembali diteliti dan dikemas agar dapat diterima generasi muda. Proses tersebut dilakukan melalui riset, rekonstruksi, dan pengenalan kepada anak-anak, termasuk dengan pengemasan musik dambus yang lebih dekat dengan selera masa kini.

Meski demikian, ia mengakui keterlibatan sanggar dalam kegiatan tersebut masih dibatasi oleh kemampuan anggaran. Bahkan, sejumlah pelaku seni mengikuti kegiatan tanpa uang saku demi mendukung pemajuan kebudayaan daerah.

Ratna berharap kolaborasi pemerintah, sekolah, pelaku seni, dan dunia usaha dapat terus diperkuat agar pelestarian budaya tidak berhenti pada penyelenggaraan festival semata, tetapi tumbuh menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan pendidikan generasi muda.(B*/Wp)