MAK BAREK (Penambang Perahu)

Oleh Wipie

Aku dapati senyumnya segera mengembang begitu aku naik di atas perahunya, dengan topi caping dan pakaian khasnya wanita itu menyambutku. Wajahnya selalu tampak ceria walau usia telah merenggut separuh hidupnya, dia tetap ramah menyambut orang-orang yang datang dan naik di atas perahu yang akan membawa mereka menyeberang Sungai Kalianak sebagai jalan pintas bagiku dan orang-orang yang hendak pergi ke pusat kota.

banner dalam.jpg

Wanita paruh baya tersebut dengan setia mengantarkan setiap penumpang yang naik ke perahunya dengan gembira. Mak Barek, itulah namanya, wanita yang aku tahu tinggal sendirian tidak begitu jauh dari bantaran sungai dan perahu tambang tempat ia menghabiskan waktunya.

(Riak gelombang sungai itu terpecah dengan gemulai begitu perahu melaju memecah keruhnya jalan hidup seorang Mak Barek, tiada keluh kesah yang terucap dari bibirnya yang selalu mengunyah sirih, bagai mata bianglala, nyala hidupnya.)

“Apa kabar, Mak?” kataku begitu naik di atas perahunya.

“Baik-baik saja, Nak Ayu,” jawabnya.

Aku tersipu, Mak Barek selalu memanggilku Nak Ayu.

“Mak sudah sarapan belum?”

“Mak hari ini ndak masak, Nak Ayu. Tidak ada yang dimasak, uang simpanan Mak sudah habis,” jawabnya lagi.

“Biar Mak nyirih saja,” sambung Mak Barek, mengunyah daun sirihnya.

Batin ku terasa teriris mendengar ucapan tanpa beban yang keluar dari wanita tua itu. Sungguh sangat sulit menjalani kehidupan ini seorang diri, tanpa suami dan anak-anak.

(Guratan di kening semakin bertambah seiring dentang waktu ditabuh oleh deraan hidup yang semakin menghimpit dada, daun-daun sirih pun tak mampu mengatasi luka perih yang telah menjadi koreng dalam kegamangan jiwa dan kesunyian hati, tak ada lagi diharapkan kecuali berpasrah diri dan menjalani waktu yang tersisa di atas Sungai Kalianak yang sudah tak jernih.)

Betapa laranya Mak Barek yang berusaha merengkuh sisa-sisa napas dalam ketuaannya yang sendiri, dengan tinggal di sebuah rumah petak yang tak ada kamarnya, berlampu sentir, berkasur tipis dan kain selambu yang selalu melindungi dirinya dari serangan nyamuk dan udara dingin yang menerobos dari celah dinding papan.

“Mak sudah dak ada suami, Nak Ayu. Suami Mak sudah meninggal 15 tahun yang lalu,” kata Mak Barek menjawab pertanyaanku tentang keluarganya saat kami menunggu penumpang lain.

“Anak-anak Mak?”

“Anak Mak meninggal sakit waktu masih kecil dulu.”

Ya Allah, begitu berat beban dan cobaan Engkau limpahkan kepada wanita tua yang tidak pernah mengeluh ini. Masih adakah kebahagiaan akan Engkau berikan, Ya Allah…

Aku makin miris mendengar cerita Mak Barek.

“Mak dak pengen pulang ke kampung?” kataku dengan nada lirih menahan sesak dengan ceritanya.

“Dak! Mak pulang ke siapa? Lha wong Mak sudah ndak punya siapa-siapa di kampung?” Mak Barek tersenyum sangat ikhlas.

Ya Gusti, begitu putihnya hati Mak Barek ini. Matanya yang cekung dengan pupil bergaris menggambarkan pengembaraan hidupnya yang terasing.

(Musim demi musim bertalu rindu, mencoba mengetuk pintu kebahagiaan yang tertutup rapat seperti bungkahan batu hitam keras, dan tak bersinar, jiwanya tak lelah berkelana, mengembara mencari kebahagiaan abadi-Mu, surgalah tempatmu berada.)

Pagi ini dengan membawa bekal yang aku siapkan untuk Mak Barek, aku berangkat lebih pagi agar dia bisa sarapan masakan yang sengaja aku buat buat dirinya.

Namun begitu sampai di tempat perahu tambang, aku tidak mendapati Mak Barek. Di atas perahu seorang laki-laki dengan topi caping sedang duduk menghisap sebatang rokok.

“Pak! Mak Bareknya ke mana, ya?” kataku bertanya.

“Mak Barek katanya sakit, Mbak. Sudah tiga hari ini,” jawab laki-laki itu.

Jantungku langsung berdesir kencang mendengar keadaan Mak Barek.

“Sakit apa, Pak?”

Aku pun berlalu menuju rumah petaknya.

(Lelahkah jiwanya mengembara? Letihkah sayapnya merepih, tipisnya halimun masih saja mengaburkan jalan yang mendera, sunyi… kini semakin sunyi…)

Aku dapati tubuh Mak Barek terbujur lemas di atas tempat tidur, mencoba menahan batuknya.

“Asma Mak kambuh,” katanya pelan, kemudian batuk lagi.

“Kita ke rumah sakit, ya, Mak!” pintaku.

Mak Barek berdehem kecil dan menggeleng lemah.

“Tadi sudah ke puskesmas kok, Nak Ayu.”

“Sudahlah, Mak, jangan merasa gak enak sama aku, ya. Aku pengen Mak sembuh. Setelah itu Mak mau, kan, tinggal di tempat yang baru? Di tempat di mana Mak tidak akan sendiri?” tawarku lagi, memijat pundaknya pelan.

“Maaf, Mak, aku sudah mendaftarkan Mak di Panti Jompo Tali Kasih, biar Mak ada yang merawat dan gak perlu susah-susah cari yang jadi penambang perahu.”

Aku mulai terisak bertutur, tak kuasa menahan iba yang mendalam akan hidupnya.

“Mak mau, kan, menganggap aku anak Mak?” kataku lagi.

Mak Barek menoleh dengan mata berkaca. Mata tua itu menghujam hatiku lumat-lumat, kemudian memelukku erat.

(Daun-daun sirih masih terjuntai dimainkan angin, dibuai impian baru yang datang menjemput ketika senja hendak beranjak pergi.)