PANGKALPINANG, BERINDO.ID – Satu tahun memimpin Kota Pangkalpinang, Wali Kota Saparudin mengakui masih banyak harapan masyarakat yang belum terpenuhi. Berbagai persoalan mendasar, mulai dari pelayanan kesehatan, fasilitas pendidikan hingga kebersihan kota, masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan pemerintah daerah.
Pengakuan itu disampaikan Saparudin dalam kegiatan Silaturahmi dan Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pangkalpinang di Taman Sari, Jumat (16/10/2026) malam.
Di hadapan para pemangku kepentingan dan insan pers, Saparudin menegaskan bahwa pemerintahannya tidak bermaksud membanggakan capaian selama setahun terakhir. Menurutnya, masyarakat perlu mengetahui apa yang telah dikerjakan sekaligus memahami berbagai tantangan yang masih dihadapi pemerintah kota.
“Banyak hal memang yang belum kami lakukan, banyak hal yang masih menjadi tantangan. Persoalan-persoalan mendasar di Kota Pangkalpinang masih banyak yang belum terselesaikan,” kata Saparudin.
Pernyataan tersebut menjadi pengakuan terbuka bahwa sejumlah persoalan perkotaan masih membutuhkan penanganan berkelanjutan, meskipun pemerintah telah menjalankan berbagai program selama satu tahun pertama kepemimpinannya bersama Wakil Wali Kota Dessy Ayutrisna.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Saparudin mengatakan pelayanan di puskesmas, rumah sakit, dan puskesmas pembantu masih perlu diperbaiki agar masyarakat memperoleh layanan yang lebih baik.
Pemerintah kota juga mengandalkan program Universal Health Coverage (UHC) dan BPJS Kesehatan untuk membantu masyarakat kurang mampu mengakses layanan medis tanpa terbebani biaya pengobatan.

Di sektor pendidikan, pemerintah merencanakan pembangunan SMP Negeri 12 pada 2027 setelah sebelumnya membangun SMP Negeri 11. Langkah tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan daya tampung siswa seiring perkembangan kota.
Persoalan kebersihan juga menjadi sorotan. Saparudin mengungkapkan bahwa pemerintah telah menjalankan kegiatan pembersihan setiap Jumat dan mulai mengembangkan program bank sampah. Namun, upaya tersebut masih membutuhkan konsistensi pelaksanaan dan dukungan masyarakat.
“Kami sudah menyatakan perang sebetulnya dengan sampah ini. Saya setiap Jumat itu turun membersihkan sampah, program-program bank sampah sudah kita mulai, tapi tentunya masih banyak yang harus kita kerjakan,” ujarnya.
Selain persoalan pelayanan publik, keterbatasan fiskal turut menjadi tantangan dalam menjalankan program pembangunan. Efisiensi anggaran pemerintah pusat mendorong pemerintah kota mencari terobosan serta memperkuat kerja sama dengan BUMN, BUMD, perbankan, dan perusahaan swasta.
Saparudin menilai semangat gotong royong menjadi salah satu faktor yang membantu pemerintah tetap menjalankan kegiatan di tengah keterbatasan anggaran.
Dalam forum tersebut, sejumlah isu lain juga dibahas, termasuk antrean BBM, kebutuhan air bersih, penataan kawasan wisata Pasir Padi, serta pengembangan kawasan industri dan pelabuhan di Pangkalbalam.
Saparudin menegaskan bahwa kritik, saran, dan masukan masyarakat tetap diperlukan untuk mengevaluasi kinerja pemerintah. Ia menyadari, keberhasilan kepemimpinan tidak cukup diukur dari program yang telah dilaksanakan, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjawab kebutuhan warga.
Memasuki tahun kedua kepemimpinannya, tantangan bagi Pemerintah Kota Pangkalpinang adalah menerjemahkan berbagai komitmen tersebut menjadi perbaikan nyata. Masyarakat kini menantikan langkah konkret agar persoalan yang selama ini dihadapi dapat diselesaikan secara bertahap dan manfaat pembangunan semakin dirasakan secara luas.(B*/Wp)








