Oleh Wipie
Bocah-bocah itu semburat berlari begitu suara petasan memecah sore menjelang magrib, di sebuah tanah lapang dengan hamparan rumput hijau yang membentang. Tawa dan canda mereka terdengar jelas oleh Wandot, laki-laki kecil yang sedari tadi memperhatikan tingkah polah teman-teman sepermainannya dari atas bongkahan batu, berjarak sekitar seratus meter dari mereka.
Kemudian, segerombolan anak-anak itu pun melangkah pulang setelah puas bermain bola.
(Sepertinya banyu yang mengalir dari celah tanah merah sudah tak sejernih dulu. Masa telah berganti, menggiring unggas bermain dengan dirinya sendiri karena hamparan padang telah tak ada.)
Setiap sore, tanah lapang yang tak lagi berumput itu menjadi tempat bermain anak-anak kampung di pinggiran kota. Seperti biasa pula, Wandot pasti tertinggal, menghabiskan sore bersama teman-teman kampungnya itu karena harus menggiring sapi-sapi milik Juragan Amir.
Dia memandang masgul karena selalu terlambat, sementara teman-temannya sudah beranjak hendak pulang setelah bermain sepak bola.
“Main bolanya sudah selesai, Kri?” tanya Wandot ketika sampai di sana.
“Sudah!” jawab Sukri dengan napas berkejaran. Wandot menggaruk kepalanya. Sekian sore yang ia kejar, tetap saja tak tercapai. Dia selalu terlambat.
20 Tahun Setelah Itu
Wandot menaruh ransel lusuhnya. Ia memandang tanah lapang yang sudah tidak lagi hijau.
Tanah lapang itu kini menyimpan sejuta keinginan baginya, keinginan seorang lelaki yang begitu rindu pada masa anak-anak yang tak sempat ia nikmati.
Sepi dan becek menyambutnya kembali ke kampung yang telah menjadi bagian dari masa kecilnya itu.
(Andai saja hidup mau sedikit berpihak kepada dirinya dan keluarganya, tentu dia akan merasakan sedikit kebahagiaan bermain bola bersama teman-teman kampungnya. Namun, apa daya, waktu telah merenggut langkahnya, merebutnya perlahan sampai jengah tak tersisa. Tapi dia tak ingin menyalahkan bapak atau emak yang miskin.)
“Biar Wandot saja, Mak, yang nganggon sapi Pak Amir. Gantiin Bapak,” katanya begitu tahu maksud Bapak yang akan pergi ke kota menjadi buruh bangunan.
“Habis sekolah aku bisa angon sapi-sapi Pak Amir,” sambung Wandot lagi.
(Harapan mengais derajat yang sedikit lebih tinggi pun tinggallah asa yang terbuang manakala Bapak terjatuh dari atas bangunan dan harus kehilangan satu kakinya. Sekali lagi, kehidupan telah mencuri hari-harinya secara perlahan dan menyakitkan.)
Amarah bergemuruh dalam dada. Wandot kecil mengepalkan tangannya, meninju kesombongan hidup yang tak mau mendekatinya.
Diseretnya kaki menapaki jalan penuh comberan dan kubangan lumpur. Wandot semakin tak peduli. Hatinya telah benar-benar hitam, hingga melepaskan nuraninya begitu saja akibat belitan ekonomi yang menyesakkan dan sungguh tidak mengenakkan.Wandot telah berubah menjadi penjagal.
Penjagal kehidupan orang-orang kaya yang tidak menyisakan gelimang harta mereka untuk kaum seperti dirinya.Warna darahnya berubah hitam.
Hingga pada satu ketika, tiga buah timah bersarang di paha dan dadanya. Melumpuhkan amarah dendamnya dan memasung jiwa agar sajadahnya kembali bersih.
“Wan, apa yang kita dapet ini merupakan anugerah dari Gusti Allah. Jadi ojo nyesel, kalo uripmu koyo ngene,” ucapan Bapak memenuhi otaknya yang terpenjara.
“Jalani hidup itu dengan sabar. Jangan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Semua ini sudah diatur oleh Gusti Allah. Kamu harus percaya itu,” kata Bapak yang hari-harinya hanya bisa ia habiskan di atas kursi dan tempat tidur.
Wandot kecil diam. Tak mengangguk.Namun yang jelas, tekadnya untuk pergi ke kota sudah tergambar nyata.
(Maafkan aku, Pak. Aku tak sanggup melihat lalat mencumbui luka hidup kita.)
Kini, setelah kebebasannya, Wandot kembali pulang.Menemui masa kecilnya dulu yang terbuang.
Memandang tanah lapang, saksi bisu masa anak-anaknya yang hilang.
(Smilir angin berhembus membawa dendang kehidupan, menghampiri ilalang kering yang menjuntai di sela padang rumput, mengisi kekosongan ruang-ruang yang terlewati dulu, dua puluh tahun yang lalu.)
Biarlah masa kecilnya hilang percuma, asal ia bisa kembali mengulangnya. Wandot melangkah lagi. Menaruh ransel di punggung dan berjalan pulang.
Ia ingin menanami masa lalunya dengan butiran-butiran kebaikan dari bekal yang ia peroleh di pesantren dan dunia liar yang sempat ia jalani.
Barangkali masa lalu memang tak pernah benar-benar kembali.
Namun, setiap langkah yang ditempuhnya hari ini adalah kesempatan untuk menebus apa yang dahulu terbuang.
Dan di tanah lapang itu, di antara ilalang yang bergoyang disentuh angin senja, Wandot seakan melihat kembali seorang bocah kecil yang pernah berdiri jauh dari teman-temannya. Bocah yang selalu terlambat. Bocah yang tak pernah sempat bermain bola.
Bocah yang akhirnya kembali, bukan untuk mengejar masa kecilnya, melainkan untuk berdamai dengannya.






