Usia 80 Tahun Tak Lagi Bekerja, Abdul Kadir: Beras Bantuan Bikin Kami Tak Perlu Membeli

PANGKALPINANG, BERINDO.ID – Di usia 80 tahun, Abdul Kadir sudah tak lagi bekerja. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bantuan pemerintah menjadi salah satu penopang yang begitu berarti, terutama untuk urusan pangan.Warga RT 04/RW 01, Kelurahan Semabung Lama, Kota Pangkalpinang, itu kembali menerima bantuan pangan alokasi Juli-September 2026 yang disalurkan pemerintah melalui Dinas Pangan dan Pertanian, Selasa (8/9/2026).

Kali ini, Abdul Kadir menerima 30 kilogram beras. Baginya, jumlah tersebut bukan sekadar bantuan, tetapi berarti berkurangnya beban pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan pokok.

banner dalam.jpg

“Terima kasih, saya senang hati dapat beras bantuan dari pemerintah. Kita beras tidak beli lagi,” kata Abdul Kadir saat ditemui usai menerima bantuan.

Abdul Kadir mengaku telah dua kali menerima bantuan pangan. Pada penyaluran sebelumnya, ia mendapatkan 20 kilogram beras dan empat liter minyak goreng.

Kini, ketika usianya telah memasuki delapan dekade dan tidak lagi memiliki penghasilan dari pekerjaan, bantuan tersebut menjadi sesuatu yang sangat ia syukuri.

“Terbantu. Bapak kan enggak kerja, beras dapat,” bebernya.

Abdul Kadir juga menyebut dirinya menerima bantuan pemerintah dalam bentuk uang secara berkala.

Menurut keterangannya, bantuan tersebut diterima setiap tiga bulan.Ia mengatakan dukungan pemerintah tersebut sangat membantu dirinya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, ia berharap bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan tidak berhenti di tengah jalan.

“Harapannya terus-terusanlah sampai akhir kita ini. Jangan sampai putus-putus di jalan,” katanya.

Bagi Abdul Kadir, bantuan pangan menjadi bukti bahwa masyarakat lanjut usia dan mereka yang sudah tidak mampu bekerja masih mendapat perhatian.

Cerita serupa datang dari Nurhana (70), warga RT 04 Kelurahan Semabung Lama. Nurhana menerima bantuan pangan untuk kedua kalinya.

Namun, kondisi keluarganya kini berbeda dibanding sebelumnya. Sang suami sedang sakit sehingga dirinya harus mengambil langsung bantuan tersebut.

Di tengah kondisi kesehatan yang juga mulai terbatas, Nurhana mengatakan kebutuhan keluarga banyak ditopang anak-anaknya.

“Kalau kami makan, anaklah yang nanggung,” tuturnya.

Nurhana memiliki tiga anak. Dua anak perempuannya telah menikah, sementara satu anak laki-lakinya masih bekerja.

Bantuan beras yang diterimanya pun langsung berarti bagi kebutuhan rumah tangga.

“Kalau dikasih anak, beli beras dulu tiap bulan. Kalau habis nanti anak kasih lagi untuk harian,” ujarnya.

Nurhana, mengaku bersyukur karena bantuan tersebut setidaknya dapat mengurangi beban keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan.

“Iya, cukup membantu bantuan ini,” kata Nurhana.

Di penghujung pertemuan, Nurhana menyampaikan pesan sederhana kepada pemerintah, agar bantuan terus diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Banyak-banyak terima kasih bantuannya. Kami minta sehat, panjang umur semuanya,” ucapnya.

Dua cerita warga lansia tersebut menggambarkan bagaimana bantuan pangan memiliki arti lebih dari sekadar komoditas. Bagi mereka yang tak lagi bekerja dan keluarga yang tengah menghadapi keterbatasan ekonomi, beras yang diterima dapat menjadi ruang bernapas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.(B/Wp)