PANGKALPINANG, BERINDO.ID – Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin menemukan kondisi kepadatan ekstrem saat meninjau Pasar Pagi pada Sabtu (12/9/2026). Pasar ini kini sudah kelebihan kapasitas, ruang berjualan habis dipenuhi pedagang, bahkan kawasan yang seharusnya jadi tempat parkir pun berubah menjadi lapak dagangan.
Sebagai langkah nyata, Pemkot akan memindahkan pedagang ke lantai atas yang masih kosong, sekaligus mempercepat rencana pembangunan pasar baru di kawasan Gerunggang dan Air Hitam.
“Pasar Pagi ini sudah overload. Ruang jualan jauh lebih sedikit dibanding jumlah pedagangnya. Semua tempat di bawah penuh, sampai area parkir pun tak tersisa. Padahal lantai atas masih sepi, baru diisi satu-dua pedagang saja,” ungkap Saparudin di lokasi.
Kondisi tidak teratur ini muncul karena sejak awal banyak pedagang memanfaatkan ruang parkir untuk berdagang, sehingga fungsi asli kawasan itu hilang dan kepadatan makin memuncak.
Untuk mengatasinya, pemerintah menetapkan kebijakan pemindahan, pedagang barang kering seperti bumbu-bumbuan dan kebutuhan pokok kering akan diarahkan menempati lantai atas. Agar pedagang tidak terbebani saat beralih tempat, Pemkot memberikan keringanan pembayaran retribusi selama masa transisi.
“Kami paham, kalau pindah tempat, pelanggan belum tentu tahu. Makanya kami beri kemudahan dulu, supaya mereka bisa bangun kembali pembeli di lokasi baru dengan tenang,” jelasnya.
Saparudin menegaskan pertumbuhan penduduk dan perluasan wilayah kota menuntut solusi jangka panjang. Kawasan Gerunggang dan Air Hitam dipilih sebagai lokasi prioritas pembangunan pasar baru, mengingat wilayah tersebut belum memiliki fasilitas serupa.
“Nanti Pasar Pagi kita fokuskan melayani warga sekitar Taman Sari. Gerunggang dan Gabek belum punya pasar sendiri, makanya harus segera dibangun. Kita butuh beberapa pasar baru seiring berkembangnya Pangkalpinang,” ujarnya.
Pembangunan ditargetkan mulai berjalan bertahap pada 2027 atau paling lambat 2028. Anggaran pembebasan lahan sudah disiapkan. Pemerintah mengincar luas lahan minimal setengah hektare, idealnya satu hektare agar fasilitas lengkap, meski mencari lahan strategis seluas itu masih cukup sulit.
Masalah lain yang belum tuntas adalah penggunaan trotoar. Penertiban pedagang di badan jalan sudah berjalan, namun masih ada yang berjualan di trotoar, terutama pedagang buah. Langkah penertiban tahap kedua akan dilakukan, namun keterbatasan daya tampung pasar menjadi kendala utama.
“Kalau sudah penuh sesak begini, mau kita minta masuk ke mana? Tempatnya saja tidak ada,” kata Saparudin.
Pemkot juga berbenahi fasilitas pasar yang sudah ada. Jalan lingkungan Pasar Pagi dan Pasar Besar akan diaspal ulang. Sementara itu, perbaikan atap Pasar Pangkalbalam dan pembenahan Pasar Parit Lalang akan dimulai bulan depan.
Rangkaian kebijakan ini menjadi awal tata ulang sistem perdagangan rakyat di Pangkalpinang. Kepadatan Pasar Pagi menjadi sinyal nyata: kota tumbuh pesat, sehingga pasar rakyat pun harus berkembang dan tertata rapi demi kenyamanan warga.(B*/Wp)