PANGKALPINANG, BERINDO.ID – Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin, menegaskan penanganan masalah persampahan tidak bisa diselesaikan sendirian oleh pemerintah. Diperlukan sinergi dan kolaborasi luas lintas pemangku kepentingan, termasuk dukungan BUMN dan dunia usaha, guna membangun ekosistem pengelolaan sampah terpadu dari hulu hingga hilir, sekaligus mengubah pola lama sekadar angkut-buang menjadi kelola dan kurangi.
Pernyataan itu disampaikan Saparudin saat menerima bantuan 15 set tempat sampah dari Bank Negara Indonesia (BNI) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, di halaman Rumah Dinas Wali Kota Pangkalpinang, Kamis (3/9/2026).
“Kita sedang membangun ekosistem pengolahan sampah yang utuh dan menyeluruh. Tahun ini ditargetkan beroperasi lima unit TPS3R, dan pada 2027 akan ditambah dua lagi sehingga total menjadi tujuh fasilitas berbasis masyarakat,” ungkap Saparudin.
Rinciannya, satu unit TPS3R sudah diperoleh dari Kementerian PUPR di kawasan Air Kepala Tujuh. Dua fasilitas lainnya akan direvitalisasi di wilayah Genas dan Ketapang. Satu lagi diharapkan terealisasi berkat dukungan PT Timah.
Dengan demikian, hingga akhir tahun 2025 kelima fasilitas tersebut siap melayani pengolahan sampah di tingkat lingkungan.
Saparudin menjelaskan sistem ini dirancang agar beban sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) berkurang drastis. Di TPS3R, sampah dipilah dan diolah, sehingga sisanya atau residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan hanya berkisar 30 persen saja.
“Kalau masuk 10 ton sampah, yang diolah dan dimanfaatkan sebanyak 7 ton, sisanya hanya 3 ton residu. Inilah yang nanti dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) untuk penanganan akhir. Beban ke TPA otomatis jauh berkurang,” jelasnya.
Langkah pembenahan juga menyentuh langsung kawasan TPA. Bagian yang sudah penuh dan tidak lagi aktif akan segera ditutup rapat, ditata, dan dihijaukan kembali menjadi ruang terbuka hijau.
Sementara bagian yang masih aktif tetap berfungsi sementara, seiring persiapan pembangunan TPST sebagai fasilitas pengolahan modern pengganti.
“TPA yang sudah pasif tidak akan dibuang sampah lagi. Kita tutup dan kita jadikan hutan kembali. Di sisi lain, kita siapkan fasilitas pengolahan yang lebih tepat guna dan berkelanjutan,” tegas Saparudin.
Bantuan tempat sampah dari BNI yang diterima saat ini akan disebar di fasilitas umum dan sekolah, sebagai langkah awal membiasakan masyarakat memilah sampah sejak dihasilkan.
Saparudin sangat mengapresiasi dukungan ini dan berharap makin banyak mitra usaha maupun BUMN turut berpartisipasi.
“Kita memang bersinergi dan berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Mudah-mudahan dukungan seperti ini bertambah lagi dari mitra-mitra kita yang lain,” ujarnya.
Pemkot Pangkalpinang menargetkan, seiring selesainya pembangunan dan pengembangan seluruh fasilitas ini, sistem persampahan di kota ini akan berubah total, tidak lagi sekadar angkut-buang, melainkan berkelanjutan, ramah lingkungan, dan menjadikan Pangkalpinang bersih serta asri sesuai visi program Pangkalpinang Bersih dan Indonesia Asri.(B*/Ws)