Oleh Wipie
Aku berdiri di depan gerbong ketiga seperti yang tertulis di karcis kereta yang akan membawaku pulang. Sore baru saja beranjak pergi, malam sudah menjelang. Setelah beberapa jam menunggu, tadi akhirnya tiba juga kereta yang kunanti. Dari jauh gemuruh mesinnya terdengar begitu masuk di lintasan 2 di stasiun kecil ini.
Sekian lama ku tinggalkan stasiun ini, tidak banyak berubah, seolah masih menyisakan kenangan-kenangan masa lalu. 15 tahun aku meninggalkan kota kecil yang telah membesarkan jiwaku dengan setia, meski secuil luka tlah tergores di dinding sekolah, namun tetap saja tak membuatku lupa.
(Menarilah bidadari dengan riangnya, menelusuri koridor-koridor kenangan, sayapnya seakan mengembara mengembalikan aku ke titik balik di masa dulu, ribang sekali, benakku tenggelam dalam kenangan masa belia.)
Aku tak tahu perasaan apa yang aku rasakan sekarang ini, saat hati kecilku berbisik mengajakku kembali menelusuri jejak-jejak kenangan di Lahat, kota kelahiranku.
Ataukah hatiku lagi ingin membuka kembali kisah dulu yang telah tersimpan sekian lama dalam bilik jiwaku, aku merasa seakan hatiku sedang menuntunku menemukan kembali sesuatu yang hilang dulu, tapi apa? Akupun tak tahu.
(Di atas jembatan gantung yang membelah Sungai Lematang, aku berdiri mematung, dan membiarkan gerakannya naik turun, tentu saja sudah tidak menakutiku sekarang. Tiba-tiba saja saat itu aku langsung ingat Firman, teman sekolah yang banyak mencuri hati para gadis belia di sekolah dulu. Ah… apa kabarnya dia sekarang? Masihkah dia tinggal di sini? Aku tersenyum sendiri menyadari tidak ada jawaban yang sempat terlontar di benakku tadi… ah benar-benar bodoh, tentu saja dia sudah tidak ada di kota ini.)
Setelah mendapati nomor tempat duduk, aku segera menghempaskan pantatku di atas bangku gerbong, dan membuang pandanganku keluar jendela, sebelum menutup jendela kenangan untuk terakhir kalinya.
7 hari sudah aku mengikuti kata hatiku menelusuri kisi-kisi dan jendela kenangan di kota ini, namun aku tak jua menemukan sulaman indah sosok yang menjadi kenangan.
Begitu kereta bergerak perlahan meninggalkan stasiun, sepasang mata sedari aku naik tadi selalu mengamatiku. Aku tahu itu, karena sikapnya dapat aku baca, apalagi ketika aku menangkap ekor matanya yang melihat ke arahku dengan sedikit aneh.
Aku diam seolah tidak tahu, biarkan saja, selama dia tidak menggangguku pikirku.
(Bias sang lembayung memudar ketika hujan telah berhenti, jamahan surya menyentuh ujung daun yang berembun, menyejukkan rasa yang sempat mati rasa menunggu wajahnya mendekati harumnya bunga.)
“Maaf, Anda suka membaca novel Cinta Tak Berujung?” tanya laki-laki yang di depanku tadi.
Begitu aku mulai membuka novel lama yang sengaja aku bawa untuk menemani mencari jejak yang tertinggal dulu. Aku mengangguk tanpa senyum.
“Novel ini sudah lama sekali, sudah sulit pula mendapatkannya,” katanya lagi.
“Ini pemberian seorang kawan lama saya,” kataku menimpali komentarnya.
“Ooo…”
Aku menyeringai melihat polahnya, kemudian sibuk kembali dengan novel yang kubaca.
(Pikiranku segera menggambar wajah Firman, dari dialah aku mendapatkan novel ini, untuk mengingat masa sekolah katanya, agar novel ini bisa membawaku kembali begitu katanya dulu, “Bawalah ini, Amanda, aku ingin novel ini membawamu pulang bila engkau meninggalkan kota ini.” Ucapan Firman masih aku hapal hingga sekarang.)
“Sayang penerbit sudah tidak menerbitkan lagi novel ini, padahal aku ingin sekali memilikinya.”
“Ooo…” aku sengaja menirukan ucapannya.
Laki-laki tersebut tersenyum kecil, seperti tidak enak hati.
“Maaf, bila Anda tidak berkeberatan boleh saya pinjam untuk saya salin?” katanya.
“Untuk apa?” tanyaku pula.
“Tidak untuk apa-apa, hanya saja aku punya sejarah dengan novel itu.”
Bibirku membentuk huruf O, lalu melipat ujung kertas sebagai tanda aku membaca, lalu menyodorkan kepadanya.
Novel Cinta Tak Berujung memang sangat populer di masa sekolahku dulu, tidak heran bila novel itu laris manis.
(Kidung pagi menimbulkan aroma wangi menyeruak menembus udara yang dingin, perjalanan panjang yang cukup melelahkan, sepanjang perjalanan pula aku banyak menghabiskan waktuku dengan tidur, aku ingin segera sampai di rumah dan memeluk Nada dengan manja, dan menciumi pipinya.)
Waktu sudah mendekati subuh, sebentar lagi kereta akan sampai. Guncangan kecil di pundak membangunkan aku dari lelap. Samar wajah laki-laki itu tepat berada di hadapanku. Aku menggeliat perlahan, sedikit malu.
“Sudah hampir sampai,” katanya.
Aku mengangguk pelan dan membetulkan letak tubuhku.
“Ini novelnya…” dia menyodorkan novel itu kepadaku.
“Ternyata novel ini benar-benar telah membawanya kembali,” katanya lagi.
“Maaf, maksud Anda?” tanyaku heran.
Dia tersenyum dan tak menjawab pertanyaanku. Hanya sorot matanya membuatku tak mengerti.
“Nama yang ada di balik cover novel itu yang membawamu kembali ke masa lalu, kan?”
Aku tersenyum simpul begitu dia menyebutkan nama di balik cover novel itu.
(Merapatlah hati ini, pada dinding rasa, tanpa belenggu, tanpa paksa, hanya keindahan yang terlihat dari sini, dari kenangan cinta yang dini.)
Begitu turun dari gerbong aku masih sempat menangkap lewat ekor mataku, laki-laki itu berdiri beberapa saat memandang kepergianku dengan senyumnya.
Aneh saja rasanya… kenapa dia tersenyum?
Entahlah…(*)





