Yang Tak Terungkap

Oleh Wipie

Kudapati lagi sorot elangnya pagi ini, melintas menembus kabut tipis tanah desa yang masih basah, seringainya tertahan begitu aku melambaikan tangan ke arahnya, hanya itu yang bisa aku lakukan padanya, tidak lebih. Tak mungkin pula aku tahan lajunya sang waktu. Selimut pagi tlah menutup langkah kakinya menjauh dan hilang di tikungan jalan kebun Teh tidak jauh dari Bungalow yang aku tinggali.

banner dalam.jpg

Dia memang pemuda yang tampan, berkulit putih dan berpenampilan menarik. Aku mengenalnya cukup lama, aku tidak tahu persis tepatnya kapan dan di mana pertama kali kami bertemu, aku terlalu sibuk mengurus perkebunan teh milik Papa.

Semula aku tak begitu menghiraukan kehadirannya, aku pikir dia pasti salah satu pekerja Papa yang ditugasi mengawasi pemetik-pemetik teh. Sebelumnya aku memang belum pernah melihat dia di desa ini.

Sejalan waktu, ternyata kehadiran pemuda itu semakin memenuhi pikiranku. Sampai kini aku masih saja merindukan tatapan matanya. Mata elang yang tersimpan dalam ruang benakku itu telah menjadi sebuah rahasia kecil yang tak ingin aku katakan pada siapapun. Biarlah aku menyimpannya diam-diam.

(Tarian awan putih yang dibawa oleh angin merenda waktu semakin indah, beradu lembut di kaki Gunung Dempo, memaksa matahari mengikuti ke mana sang awan berayun, kilauan cahaya yang berterbangan dari Sungai Lematang perlahan naik dan ikut pula menari, aku masih merasakan detak jantung yang kian tak menentu, sungguh kehadirannya yang biasa ternyata membuat aku tak biasa bila aku tak menemukan mata elangnya…)

Kenapa aku kian tak mampu membuang wajahnya? Begitu seringnya singgah membuat aku kian terlena dalam rasa yang aneh ini. Entahlah… apakah aku tlah mendua?

Hanya saja keinginan untuk melihatnya melintas di jalan setapak desa itu semakin sulit aku bendung. Sejujurnya aku menyukai pemuda itu, bukan karena ketampanannya mengalahkan Bimo. Rasanya tidak, bukan itu alasannya. Cuma aku merasa ada yang beda saja dari pemuda itu, entah apa itu aku sendiri tidak tahu.

Maaf ya, Bim… aku diam-diam menyimpan rasa sukaku pada pemuda itu, aku bukan ingin mendua, sungguh…

Aku masih terkenang hingga sekarang, pada suatu waktu, ketika Papa memintanya menemaniku ke kota. Dengan sabar dia menghantar ke mana aku minta. Tak banyak kata yang terucap dari bibirnya yang berkumis tipis itu.

“Kenapa dari tadi kamu kok gak pernah ngomong?” tanyaku saat kami melintas perbatasan kota setelah seharian mengerjakan apa yang disuruh Papa.

“Saya mau ngomong apa, Yah?” katanya lugu.

Dalam hati aku tertawa geli. Jaim atau apa nih orang?

“Ya ngomong apa saja, tentang kamu misalnya? Kamu anak siapa, dan tinggal di mana?” selorohku asal-asalan.

“Saya anaknya Pak Rohim, Mbak. Tinggal di perbatasan, persis di persimpangan desa,” jawabnya tanpa menoleh.

“Pak Rohim? Pak Rohim sahabat Papa?” balikku bertanya.

Dia mengangguk masih tanpa menoleh.

“Tapi aku kok gak tahu, ya, Pak Rohim punya anak yang…..” sambungku lagi, memotong kata-kataku.

Kali ini dia menoleh, sedikit tersenyum.

“Yang apa, Mbak?”

“Yang… aku tidak tahu sebelumnya…” jawabku menahan geli, karena sikapnya jadi salah tingkah.

Dia kemudian tertawa kecil.

“Ya tentu saja, Mbak gak kenal saya, kan dari kecil Mbak sudah tidak tinggal di desa ini?” jawabnya diplomatis.

Aku manggut dan tersenyum sambil melirik ke arahnya. Ternyata pemuda itu teman ngobrol yang menyenangkan juga. Namanya Kresna, dia lulusan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Dan sekarang bekerja untuk keluargaku atas permintaan Papa.

Pak Rohim memang bukan orang lain bagi Papa, dia adalah sahabat yang paling dekat Papa sejak masih anak-anak dulu. Papa banyak cerita soal sahabat-sahabatnya itu padaku. Meskipun aku belum pernah bertemu dengan Pak Rohim, namun begitu pemuda itu menyebut nama itu aku langsung menebak Pak Rohim itu pasti sahabat Papa.

Pertemuan demi pertemuan membuat hubunganku dengannya semakin dekat saja, seiring dengan kekagumanku yang semakin berbunga, dan aku merasa begitu banyak hal yang mengagumkan dari diri Kresna membuatku jadi menyukainya.

Namun kekaguman dan rasa suka itu harus aku simpan baik-baik dan takkan tersentuh oleh siapapun. Walau aku sempat menangkap isyarat dari mata elangnya bahwa dia juga menyukaiku.

Butuh keberanian untuk menyentuhnya, dan aku tidak mempunyai keberanian untuk itu. Rasanya tidak, aku tidak akan menyentuh isyarat itu.

Ah, biar saja semua seperti ini. Aku tidak ingin keberadaan Bimo dalam kehidupanku terbuang begitu saja.

2

Malam itu Papa memintaku menemaninya ke rumah Pak Rohim, orang tua Kresna. Sudah bisa dipastikan aku akan bertemu dengan mata elang itu lagi.

Ah, mata elang itu benar-benar tidak mau pergi dalam ingatanku.

Dan benar saja, aku mendapatinya sedang duduk di beranda. Dia segera beranjak begitu tahu kami datang dan menyambut dengan ramah.

“Ayahmu ada, Na?” tanya Papa.

“Ada, Paman… beliau di dalam, silakan masuk…” jawabnya.

Papa segera masuk ke rumah panggung itu tanpa sungkan. Aku lebih memilih untuk tetap berada di beranda bersamanya.

“Memangnya ada apa sih Papa kemari?” tanyaku penasaran, sambil duduk di dekatnya dan melemparkan pandangan mataku ke bulan yang memantul di atas Gunung Dempo.

“Paman diajak oleh Ayah rembukan soal pertunangan…” jawab Kresna yang tetap berdiri di sampingku.

“Pertunangan? Emang siapa yang tunangan?” Aku kian penasaran.

“Saya, Mbak…!” jawab Kresna pelan.

Jantungku sempat tertahan mendengar jawaban.

“Kamu???” kataku sedikit tercekat.

“Iya, Mbak. Besok saya akan bertunangan dengan pacar saya dari desa sebelah.”

Aku sempat terdiam, terkejut bercampur setangkup kecewa. Entah kenapa rasa kecewa itu tiba-tiba menyeruak begitu saja ketika aku mendengar kata-katanya?

Inikah perasaan cinta yang sesungguhnya?

“Ooooo…” hanya itu yang bisa keluar dari bibirku, menyimpan rasa kecewa.

Kresna kemudian duduk tepat di depanku, memandangku dengan tatapan penuh isyarat yang tersembunyi. Tidak ada kalimat yang keluar dari bibirnya. Kami pun bertatapan cukup lama.

Hari ini, seperti hari-hari yang lalu, aku masih menemukan sorot elangnya memandangku dengan tatapan yang menyimpan sesuatu.

Ah… lebih baik begitu. Biarlah rasa antara aku dan dia yang tak terungkap ini menjadi rahasia kecil yang tersimpan di jalan setapak sepanjang perkebunan Teh. (*)