SEPOTONG KASIH UNTUK RARA

Oleh Wipie

Kami berjalan bersisian menapaki jalan berkerikil, nafas yang terengah jelas terdengar dari mulut mungilnya, aku tersenyum melihat tingkah lucunya, apalagi sal yang melingkar di lehernya yang kecil membuat dia semakin cantik saja, kelopak matanya yang sipit tidak pernah lepas memandang hamparan Bukit Barisan. Ku gandeng tangannya dengan bersenandung lagu yang biasanya… sementara pagi sudah tak berkabut, langit pun tampak cerah, jemari mentari telah pula menjamah tubuh kami yang menikmati aroma pagi dengan keharuman udara perbukitan.

banner dalam.jpg

(Barisan bangau yang terbang beriringan membelah angkasa, menunjuk pada satu arah akan kemurnian hidup yang terus membentang dan tak ragu menghampiri setiap senyawa yang hidup dalam dunianya…)

Begitu mendekati tanah datar dengan rumput yang hijau, engkau segera berlari dan membentangkan tangan dengan senangnya. Ah, sungguh bahagianya dirimu saat ini, sayang. Aku tak sanggup melihat tingkahmu yang membuatku selalu merasa kehilangan bila dirimu tidak ada di sisiku…

Aku diam sesaat dan sengaja membiarkannya bermain dengan ilalang dan rumput yang tak bosan menyambut kedatanganmu, kedatangan kita. Engkau menggapaikan tangan memanggilku untuk segera bersatu. Tentu saja tak kuasa aku tolak, sayang. Aku pun berlari ke arahmu, dengan gelak bahagia. Rentang tanganmu terbuka lebar menyambut tubuhku. Begitu aku ada dalam pelukanmu, kita pun berguling penuh suka cita. Aku lumat wajahnya, dan kudaratkan sebuah kecupan penuh kerinduan.

(Seringai burung pipit yang hinggap di ranting cemara tak mampu mengalihkan layar cerita yang terkembang, kicaunya berusaha menerobos cela pagi dan mengusik keindahannya, walau perahu itu sudah tak bernahkoda tetap saja berlayar menembus serpihan-serpihan riak ombak ditaburi bintang dan dipayungi bulan yang sendiri, sendiri bukan berarti sepi.)

Kita telah sampai di pondok huma kita, sayang. Rasa kehilanganku semakin pekat saja, huma yang selalu menjadi tempat pelampiasan kerinduan kita, yang selalu bersedia menampung keluh kesah setelah beberapa masa tak bersua.

“Ma… Minggu depan Rara gak bisa temui Mama…!” katanya masih bergayut manja di lenganku. Kutolehkan wajahku ke arahnya berusaha tersenyum.

“Iya, Rara, Mama sudah tahu…” jawabku datar.

“Papa sudah kasih tahu Mama, ya?” tanya Rara polos.

Aku mengangguk pelan. Kemudian memeluknya erat seperti tidak ingin berpisah terlalu lama dengannya.

“Iya, sayang… Papamu sudah kasih tahu Mama. Kamu hati-hati, ya?” pesanku, menyolek hidungnya.

“Rara sebenarnya gak mau ikut Papa, Rara pengen sama Mama saja.”

(Ah… Rara, seandainya Papamu tahu, betapa ingin Mama selalu dekat denganmu, sayang.)

“Kan masih banyak waktu buat kita, sayang…” ciumku lagi.

(Kain sutra bersulam benang cinta, semakin pudar warnanya tersimpan di hati yang telah tergores Jenggala, tak bisa menahan perih, tak mampu pula meratap pada malam, pada kebodohan atau pada ketakberdayaan akan apa yang telah tertuturkan pada selembar kain berbingkai mahligai.)

“Ma… kenapa sih Papa sama Mama jauhan?” Matanya mencari tahu jawaban di kelopakku yang lelah. Ah, Rara… Mama harus bilang apa, sayang…

“Mama dan Papa ingin sedikit ruang pribadi, sayang… Mama harap Rara ngerti, ya…” jawabku sambil membetulkan sal dan jaketnya.

“Iya, tapi kenapa harus begitu, Ma?”

Aku diam. Engkau belum saatnya mengerti, sayang. Kelak, seiring bunga mangga di huma kita berkembang, engkau pasti akan mengerti.

“Karena Mama dan Papa pengen seperti itu… sudahlah, yang penting Rara gak kehilangan Mama, kan? Rara bisa terus ketemu sama Mama kapan saja Rara mau?” hiburku.

Dia tersenyum dan memelukku.

“Tapi jangan lama-lama, ya, Ma, jauhannya?”

Aku tersenyum dan mencium pipinya.

(Pagi ini, pagi yang kesekian kita menghabiskan waktu di pondok kecil kita, sayang, di sebuah huma di Bukit Barisan yang menyimpan segala keluh kesahku tanpa dirimu, gadis kecilku…)

Lambaian tangan Rara seperti pilu yang mendera hari-hariku selama beberapa minggu mendatang. Kubalas lambaian tangannya yang semakin menghilang ketika mobil mantan suamiku membawanya pulang.

Mama akan merindukanmu lagi, Rara, pasti!